Rabu, 07 November 2012

Tajwid - Mad dan Pembagiannya


Mad dan Pembagiannya

A. Pengertian Mad
Mad menurut bahasa adalah memanjangkan atau sesuatu yang memanjang. Menurut pendapat yang lain adalah Az Ziyadah yaitu sesuatu yang tambah. Sedangkan menurut Istilah adalah memanjangkan suara huruf dari huruf-huruf mad.


Adapun huruf-huruf mad yaitu:
1. Alif mutlak jatuh setelah fathah contoh: قَالَ , مُوْسى
2. Wawu mati jatuh setelah dhommah contoh: قُوْلُوْا , كونُوْا
3. Ya’ mati jatuh setelah kasroh contoh : أمِنِيْنَ
Sedangkan jumlah huruf Al Lain yaitu ada dua : wawu dan ya’ mati jatuh setelah harokat fathah. Contoh : خَوْفٌ , قَوْمَيْنِ

B. Mad Asli atau Mad Thobi’i

a.Pengertian Mad Asli atau Thobi’i

Yaitu apabila ada wawu mati ( وْ) jatuh setelah dhommah, ya’ mati يْ)) jatuh setelah kasroh dan (ا ) alif jatuh setelah fathah dan tidak bertemu dengan sukun dan hamzah. Panjangnya yaitu satu alif atau dua harokat. Contoh : نُوْحِيها
Dinamakan mad asli sebab panjang dari mad ini adalah sesuai dengan dasarnya (redaksi), sedangkan dinamakan Thobi’i (sebangsa karakter) karena sifat mad atau panjangnya ini adalah pasti , yaitu satu alif. Bagi seorang qori’ diharamkan untuk mengurangi atau menambah panjang mad ashli atau mad thobi’i.

b. Pembagian Mad Thobi’i atau Asli

Mad Thobi’i Asli dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Mad Thobi’i Dhohiri
Yaitu apabila dari ketiga huruf mad tersebut jelas dalam penulisannya, sehingga dapat diketahui langsung. ( posisi wawu mati jatuh setelah dhommah, ya’ mati jatuh setelah kasroh dan alif jatuh setelah fathah). Contoh lafadh : نُوْحِيها

2. Mad Thobi’i Muqoddar
Mad Thobi’i Muqoddar (dikira-kirakan) yaitu dalam membacanya dibaca dengan suara panjang tapi penulisan hurufnya tidak tampak. Hal ini dikarenakan ada kaitannya dengan arti dan memang demikian penulisan dari khot Utsmani.
Contoh lafadh الله , الرحمن seluruh ulama membaca panjang pada huruf lam dan mim.

3. Mad Thobi’i Harfi
Yaitu panjang yang ada pada nama-nama huruf hijaiyyah ( asmaul huruf ). Dalam hal ini akan kita temukan pada pembukaan surat-surat ( fawatihussuar ). Hurufnya terkumpul dalam kalimat : حيٌطَهُرَ. Contoh الم , طه, حم

C. Mad Far’i
Adapun yang dimaksud dengan mad far’i adalah cabang dari mad asli karena adanya sebab-sebab tertentu. Mad far’i ini terbagi menjadi empat belas bagian yang akan dijelaskan satu persatu dibawah ini :

1. Mad Wajib Muttashil
Pedoman : Apabila ada mad thobi’i atau mad ashli bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Contoh : جاء , سوء , هنيئاً
Ukuran panjangnya : Menurut Hafs an Ashim adalah dua setengah alif (dua setengah alif) atau lima harokat. Sedangkan menurut Imam yang lain ada yang membaca dengan tiga alif (Imam Warosy, Imam Hamzah). Dua alif dan satu setengah alif (Qolun, Ibn Katsir dan Abu Amr)
Pengertian
Wajib: Karena Ulama Qurro’ sepakat ( ijma’ ) memanjangkan mad ini dari mad aslinya .
Muttashil: Karena bertemunya mad thobi’i itu adalah dalam satu kalimat.

2. Mad Jaiz Munfashil
Pedoman : Apabila ada mad thobi’i atau mad ashli bertemu dengan hamzah dilain kalimatUkuran Panjangnya ada tiga pendapat yaitu :
a.Wajib dibaca Qoshr seperti mad asli yaitu satu alif. Hal ini menurut pendapat Imam Al Bazzi Qonbul dan as Susi ‘an Abi Amin.
b.Wajib dibaca panjang seperti panjang yang ada pada Mad Wajib Muttashil (tiga alif, dua alif, dua setengah alif, satu setengah alif)
c.Dua wajah yaitu Qoshr (satu alif) atau mad (dua setengah alif)

3. Mad Aridh Lissukun
Pedoman : Apabila ada huruf mad asli bertemu dengan huruf mati, yang matinya (tidak asli) sebab diwaqofkan (berhenti).

Ukuran Panjangnya ada tiga yaitu :
a.Satu alif karena bertemunya mad asli itu dikarenakan waqof (berhenti), jadi meskipun waqof, maka tidak bisa merubah panjangnya mad asli.
b.Dibaca dua alif karena sukunya itu bukan sukun yang asli (sebab waqof) dan cara membacanya tetap dibawah bacaan mad Lazim.
c.Dibaca tiga alif sebab dikiyaskan/disamakan dengan bacaan mad Lazim.
Dari beberapa pendapat tentang ukuran panjang mad Aridsl lissukun yang paling banyak dipergunakan adalah yang membaca dengan tiga alif termasuk di Indonesia. Contoh: هميُنْفِقونَ, الحمدللهربّالعالمين

4. Mad Badal
Pedoman : Yaitu apabila ada dua hamzah yang kumpul dalam satu kalimat, maka hamzah yang kedua diganti dengan huruf yang sesuai dengan harokat pertamanya (sejenis) yaitu :
a. Jika dua hamzah berharokat fathah, maka hamzah yang kedua diganti dengan alif . Contoh: ءَامَنَ asalnya ءَءْمن
b. Jika dua hamzah berharokat dhommah, maka hamzah yang kedua diganti dengan wawu . Contoh : اُوْتُوُا asalnya ءُؤْتوا
c. Jika dua hamzah berharokat kasroh, maka hamzah yang kedua diganti dengan ya’. Contoh : اِْيمانًا asalnya إئْمانًا
Lama membacanya (panjangnya) adalah satu alif atau dua harokat.
Dinamakan mad badal karena huruf yang kedua (alif, wawu dan ya’) adalah sebagai ganti dari hamzah

5. Mad Lain Aridly
Pedoman : Yaitu apabila ada Huruf Al Lain (wawu dan ya’ yang mati jatuh setelah fathah) yang bertemu dengan sukun yang tidak asli (sebab waqof)
Ukuran panjangnya adalah satu,dua dan tiga alif.
Contoh : مِنْخَوْفٍ, عَيْنَيْنِ,
Keterangan
Dinamakan aridli (baru datang) karena bacaan ini timbul atau terjadi bila diwaqofkan/berhenti (huruf yang terakhir menjadi sukun/mati), akan tetapi jika diwasholkan/terus maka dibaca dengan suara lunak. (tanpa panjang)

6. Mad Iwadl
Pedoman yaitu apabila ada isim yang alamat nashobnya memakai tanwin “fathatain” (selain fathatainnya ta’ ta’nis yang mufrod mahal nashob) dan berada pada perwaqofan/berhenti, maka huruf yang bertanwin itu dihilangkan tanwinnya.
Contoh : سَمِيْعًاعَلِيْمًا, قَوْلًاكَريْماً
Panjanganya harus satu alif tidak kurang dan tidak lebih.
Dinamakan Iwadl sebab panjangnya adalah ganti dari isim mahal nashob (fathatain)
Keterangan
Dalam penulisan khot Utsmani biasanya huruf akhirnya diberi alif dan ada sebagian kecil saja yang tidak memakai alif,
Seperti : رِجَالًاكَثِيراًونساءً
Mad ini berlaku jika ada pada waqof, tapi jika diteruskan maka hukum membacanya disesuaikan dengan huruf sesudahnya .

7. Mad Tamkin
Tamkin artinya adalah menetapkan. Yaitu apabila ada ya’ yang tasydid berharokat kasroh jatuh setelah ya’ mati dalam satu kalimat/perkataan. Contoh : أمِّيِّيْنَ, واذاحيّيْتم panjangnya adalah satu alif

8. Mad Shilah Qoshiroh
Apabila ada ha’ dhomir mufrod mudzakkar ghoib berupa huruf hidup jatuh setelah huruf yang hidup dan tidak bertemu dengan hamzah atau sukun, maka dibaca panjang. Contoh : إنّهُبعبادهِخبيرُ
Lama membacanya satu alif atau dua harokat.

9. Mad Shilah Thowilah
Apabila ada ha’ dhomir ghoib mufrod mudzakar yang hidup bertemu dengan hamzah khoto’ dan tidak bertemu dengan huruf yang mati. Contoh : مندُوْنِهِإِلها , يَشْفَعُعِنْدَهُإلا
Lama membacanya dua alif atau dua setengah alif (lima harokat), jika dibaca waqof maka ha’ dlomir tersebut dibaca sukun.
Pengecualian Mad Shilah

a.Ha’ dibaca pendek karena sebelum hak dhomir ada huruf mati yang dibuang (menjadi jawab syarat) berupa wawu, yaitu pada kalimat :
وإِنْتَشْكُرُوايَرْضَهُلَكُمْ (surat Az- Zumar ayat 7 juz 23)

b.Ha’ dibaca panjang karena tauqifi (didalam Al Qur an menurut Imam Hafs an Ashim ada satu) yaitu فيهمُهَاناً ( Surat Al Furqon ayat 69 juz 19 )

c.Ha’ dibaca pendek karena bukan ha’ dhomir seperti : َمانَفْقَهُكَثِيْراً (S-Hud:91)

d.Ha’ dlomir dibaca panjang jika washol tapi jika waqof ha’ dlomir menjadi mati. Contoh. ِمنْعِلْمِه , يَعْلَمُوْنَه

e.Huruf sebelum ha’ dhomir berupa huruf hidup sedang sesudahnya berupa huruf mati . Contoh. لهُاْلحُكْمُ , لهُالأََسمَاءُ maka dibaca pendek.

f. Huruf sebelum ha’ dhomir berupa huruf mati sedang sesudahnya berupa huruf hidup . Contoh. فِيْهِهُدًى , خُذُوْهُفاعتِلُوهmaka dibaca pendek.

10. Mad Lazim Kilmi Mutsaqqol
Apabila ada mad asli yang bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam satu kalimat, maka dibaca panjang ( tiga alif atau enam harokat ). Contoh : الحآقّةُ, ولاالضآلّيِنَ
Lazim berarti semua ulama qorro’ membaca dengan lebih panjang dari mad asli ( satu alif)
Kilmi berarti bertemunya mad dengan tasydid itu dalam satu kalimat.
Mutsaqqol berarti disamping dibaca panjang juga disertai dengan suara yang berat ( membutuhkan tekanan ) ketika mad asli itu bertemu dengan huruf yang bertasydid.
Keterangan
Meskipun ada mad asli dan bertemu dengan tasydid akan tetapi bukan dalam satu kalimat, maka kalimat ini tetap dibaca pendek.

11. Mad Lazim Kilmi Mukhoffaf
Apabila ada mad yang bertemu dengan sukun dalam satu kalimat/perkataan, maka harus dibaca panjang dan tidak boleh diidghomkan. Didalam Al Qur an hanya ada dua yaitu :
a. آلأنَوَقَدْكُنْتُمْ ( Surat Yunus ayat 51 )
b. آلأنَوَقَدْعصيتُ ( Surat Yunus ayat 91)
Mukhoffaf artinya dibaca dengan ringan.

12. Mad Lazim Harfi Mukhoffaf
Mad ini hanya terdapat pada pembukaan awal surat (fawatihussuar). Sedangkan cara membacanya ada dua yaitu :
a. Dibaca seperti mad thobi’i (satu alif). Hurufnya terkumpul dalam Hayyun Thohuro. Contoh : mÛ, §
b. Dibaca seperti mad lazim (tiga alif). Hurufnya terkumpul pada سَنَقُصُّعِلْمَكَ. Contoh :Èêg., ن , ق

13. Mad Lazim Harfi Mutsaqqol
Apabila ada mad yang bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam fawatihussuar, maka harus dibaca panjang (tiga alif) dan disertai dengan tebal. Contoh : O¦Û

14. Mad Farqi
Apabila ada hamzah istifham bertemu dengan huruf yang mati, maka hamzah dibaca panjang (tiga alif) yaitu :
1. ُقلْآلذَّكَرَْينِ dua tempat pada surat Al An’am :143, 144
2. آاللهخير surat Al –Naml : 59
3. قلآاللهُأَذِنَلكم surat Yunus :59
4. آالأن surat Yunus : 91

Keterangan
Mad ini dalam kategori mad lazim.
Dibaca mad adalah untuk membedakan antara hamzah istifham dengan kalam khobar.














Dikutip dari/sumber:
http://agusriwayanto.wordpress.com/2011/12/02/macam-macam-mad-beserta-ukuran-panjangnya/(GOOGLE)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar